Dari Renang Pindah Jalur ke Selam

Surabaya (beritajatim. com) – Menggeluti bidang olahraga renang sejak kelas 3 SD mengantarkan Aisyah Juliviani Ismanto mendapatkan banyak juara di tingkat daerah dan provinsi. Namun kemudian mahasiswi Universitas Narotama Surabaya itu memilih untuk berpindah haluan menjadi atlet selam saat menginjak kelas 2 SMP. Apa alasannya?

“Waktu itu memang sudah sangat tertarik dengan selam. Selam ada dua macam: selam laut dan selam kolam. Nah saya tertarik dengan selam kolam karena menggunakan alat monofin seperti kaki putri duyung dan alat itu yang bikin saya penasaran bagaimana sih cara memakainya dan menyelarasan dengan kecepatan yang ditentukan, ” kata mahasiswi Ilmu Hukum Universitas Narotama itu.

Setelah mulai mendalami dengan banyak berlatih, Aisyah mulai mencoba mengikuti lomba pertamanya di tahun 2014. Namun karena masih pemula dan gerakannya masih kaku, ia hanya mendapatkan peringkat 10 besar. Tapi kemudian kejutan muncul ketika ia mengikuti kejuaraan daerah di 2015. Ia mendapatkan juara 3 kategori 200 meter surface.

“Waktu itu saya dan orangtua sama-sama kaget karena ternyata saya berpotensi juga di selam. Meskipun awalnya sempat kesulitan tapi ternyata progress saya cukup cepat. Jadi saya semakin menekuni dunia selam, sampai 2016 terpilih untuk mengikuti kejuaraan nasional pada Jakarta, ” lanjut gadis kelahiran 6 Juli 2000 itu.

Ia pun berusaha keras bagaimana caranya agar bisa mendapatkan juara dan usaha itu membuahkan hasil karena Aisyah mendapatkan juara 2 di nomor Apnea fifty meter. “Orangtua saya semakin bangga karena ternyata saya bisa dipercaya untuk menekuni selam, ” tuturnya. Setelah itu, Aisyah menjuarai kejuaraan daerah 50 meter surface tahun 2019 dan beberapa juara di kompetisi-kompetisi lain.

Dalam perjalanannya meraih juara, Aisyah juga mengalami kejadian lucu ketika awal-awal mendalami dunia selam. “Awalnya saya kan nggak mengetahui cara menggunakan alat monofin dan snorkel. Bagaimana caranya bisa berdiri di atas start block atau tempat untuk loncat ke kolam menggunakan monofin, ” kata Aisyah.

“Waktu lomba mulailah saya mengalami kesulitan memakai monofin karena sangat sempit, padahal ya hanya diberi waktu satu menit untuk memakai dan bersiap di start block. Sudah saya pakaikan sabun tapi tetap saja susah. Sampai saya akhirnya meminta bantuan pada petugas timer. Belum lagi kemudian harus berdiri di start block. Alhasil, saya terlambat start sekitar 5 detik. Itu jadi pengalaman berharga buat saya, ” sambungnya.

Target Aisyah selanjutnya ialah Pekan Olahraga Provinsi 2022. “Sebenarnya ada PON 2021, tapi ya belum terpilih karena hitungannya masih baru dan masih banyak senior lain. Jadi saya berlatih untuk Porprov dengan rutinitas yang berbeda dari sebelum pandemi. Kalau sebelumnya saya latihan malam hari, sekarang saya latihan pagi hari. Quickly pull 05. 00-07. 30 sebelum bersiap untuk kuliah online, ” ujar lulusan SMA Negeri 1 Kejayan Pasuruan itu.

Jadi atlet selam membawa banyak sekali keuntungan bagi kehidupan Aisyah, salah satu yang paling terasa adalah kedisiplinan yang membawa banyak dampak baik pada dirinya. “Kedisiplinan benar-benar membantu aktivitas saya sehari-hari. Ya jadi jarang menyia-nyiakan waktu dan mengisinya dengan kegiatan positif, ” tutupnya. [adg/suf]