Menggunakan Gerakan Peduli Tetangga, Dosen Sasindo Unair Rutin Bagikan Sembako

Surabaya (beritajatim. com) – Drs. Tubiyono, M. Si, dosen Bahasa serta Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair) berinisiatif melakukan tindakan peduli tetangga demi menjamin masyarakat sekitar agar lestari bisa bertahan hidup di tengah krisis ekonomi. Dosen ini setiap Jumat membagikan sembako kepada lingkungan kira-kira di daerah Nginden 6C.

“Selain karena rasa peduli terhadap sesama, secara religi kegiatan ini juga terinspirasi dari Q. S. Al-Maun yang meluluskan pesan bahwa salah mulia pendusta agama adalah tak menganjurkan memberi makan orang miskin. Jadi, kalau kita tidak peduli kepada orang yang secara ekonomi tidak berkecukupan, maka termasuk pendusta agama, ” terangnya, Jumat (2/7/2021).

Dosen yang sering disapa Tubi itu menyingkapkan bahwa kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak pertengahan Februari 2021. Pada awalnya, pembagian sembako hanya dilakukan oleh pihaknya dan keluarga selalu.

Kemudian, bersamaan berjalannya waktu tetangga sekitar yang berkecukupan turut berpartisipasi untuk memberikan sumbangan pendanaan. Setiap bulannya, dosen 63 tahun itu butuh anggaran sekitar Rp 2, tujuh juta untuk paket sembako yang dibagikan kepada asosiasi.

“Setiap Jumat kami menyediakan 45 bagian yang masing-masing paket berisi sayuran, tahu, tempe, bumbu, dan mie goreng. Kami sengaja memilih paket sembako bukan nasi karena biar bisa dinikmati semua anggota keluarga, ” jelasnya.

Perihal proses penggolongan, dosen mata kuliah Bahasa Indonesia Jurnalistik itu membaca ada tiga tahap dengan dilakukan. Tahap pertama yaitu pengadaan barang yang dikerjakan bekerja sama dengan tengkulak atau agen sayur di setiap jam 5 pagi.

Setelah bahan dikirim ke rumah, selanjutnya dikerjakan tahap pengepakan paket. Periode terakhir yaitu pendistribusian paket kepada masyarakat yang merasai kesulitan ekonomi dan biasanya dilakukan mulai pukul 05. 15-05. 45 WIB.

Sembako yang dibagikan oleh Tubi

“Proses distribusi kepada masyarakat awalnya hanya dilakukan dengan mengantre. Namun, semenjak bulan Bulan berkat orang yang datang semakin banyak dan sistemnya siap keroyokan, sehingga kami berlakukan sistem kartu antrean. Untuk warga yang tidak kebagian kartu berati tidak mendapatkan ‘Jumat Berkah’, ” tuturnya.

Ditanya perihal rencana ke depan, Tubi ingin mengembangkan gerakannya secara mengajukan proposal kerja pas kepada beberapa lembaga. Selain itu, dirinya juga ingin menggandeng mahasiswa KKN buat bisa memberikan sosialisasi & pelatihan guna pemberdayaan kelompok agar mereka bisa bergaya secara ekonomi.

“Semoga semangat rasa kebersamaan, semangat giving, dan belas kasihan yang tinggi kepada orang fakir dan miskin selalu terjaga bagi semuanya, ” pungkasnya. [adg/suf]