Pakar Epidemiologi Unair Bagikan Trik Vaksinasi Saat Puasa Ramadhan

Surabaya (beritajatim. com) – Vaksinasi saat bulan puasa diperbolehkan oleh pemerintah dan Menawan Ulama Indonesia (MUI) sebab itu tidak membatalkan puasa.

Laura Navika Yamani S. Si., M. Si., Ph. D., satu diantara pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan tubuh Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menjelaskan bahwa vaksin Covid-19 tidak tergolong sebagai makanan atau minuman & vaksin itu sendiri diberikan secara intramuskuler bukan secara oral. Sehingga, menurutnya vaksin Covid-19 tidak membatalkan puasa.

Dosen yang akrab disapa Laura itu juga mengucapkan, jika seseorang hendak mengabulkan suntik vaksin Covid-19 pada bulan ramadhan maka dia perlu memperhatikan kondisi kesehatannya. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum melaksanakan vaksinasi saat berpuasa, tambah Laura, yaitu harus melakukan sahur dan istirahat yang pas.

“Apabila mengabulkan vaksinasi saat berpuasa yang dikhawatirkan adalah seseorang menjelma lemas setelah divaksin sehingga dia membatalkan puasanya. Jadi,, pemerintah juga telah menganjurkan alternatif bagi masyarakat buat melaksanakan vaksinasi pada malam hari agar hal yang dikhawatirkan itu tidak berlaku, ” jelasnya.

Lebih lanjut, Laura mengungkapkan bahwa seseorang yang bakal mendapatkan vaksin Covid-19 harus melalui proses screening terlebih dahulu untuk memastikan kesehatannya dalam kondisi yang bagus. Apabila seseorang memiliki keburukan kormobid, sambungnya, maka kejadian tersebut juga akan diketahui melalui proses screening, jadi mengurangi kemungkinan terjadinya hasil simpang.

“Dalam vaksinasi, istilah efek samping disebut sebagai efek simpang. Ketika muncul efek cagak maka harus diidentifikasi terlebih dahulu, apakah benar pengaruh tersebut disebabkan karena vaksin yang telah didapat, ” ungkapnya pada Jumat (30/04/21).

Setelah jalan vaksinasi selesai dilaksanakan, tambahan Laura, maka akan dilakukan pemantauan selama 30 menit untuk mengetahui apakah ada efek simpang yang tampak pada orang yang sudah divaksin. Pemantauan juga pasti dilakukan hingga orang tersebut pulang dari tempat mendapat vaksin sehingga, masa efek simpang muncul bisa segera melapor ke fasilitas kesehatan.

“Jika hanya efek simpang kecil yang muncul maka biasanya sekitar 1-2 hari sudah hilang, tetapi jika pengaruh simpang yang muncul termasuk berat maka harus cepat dikomunikasikan dengan dokter di fasilitas kesehatan terdekat biar mendapatkan penanganan, ” tambahnya.

Terakhir, Laura mengimbau biar masyarakat turut berkontribusi dalam upaya pemerintah untuk menyelesaikan pandemi dengan secara sukarela mau melakukan vaksinasi Covid-19. Tidak hanya itu, taat Laura, pemerintah juga perlu memberikan edukasi terkait pentingnya vaksinasi Covid-19 dan informasi yang valid mengenai prospek munculnya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

“Masyarakat perlu memahami bahwa sebenarnya program vaksinasi Covid-19 itu sendiri memiliki lebih banyak manfaat daripada kerugiannya, ” tandas Laura.

Sebagai Universitas terbaik di Indonesia, Unair menjunjung SDM yang dimiliki buat mengembangkan diri agar dapat berkontribusi untuk masyarakat. [adg/but]