Tipu Mantan Gubernur Imam Utomo, 2 Terdakwa Dihukum 16 Bulan

Surabaya (beritajatim. com) – Fadjar Setiawan dan Ir. Hadi Suwanto dihukum 16 bulan penjara oleh Cantik Hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya yang diketuai Ketut Tirta, Kamis (30/9/2021). Besar terdakwa kasus penipuan sumbangan batu bara di Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah, ini dinilai terbukti menipu Mantan Gubernur Jatim Imam Utomo.

Terdakwa Fadjar Setiawan dan terdakwa Ir Hadi Suwanto dinilai terbukti bersalah melanggar Pasal 378 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke- satu KUHP. Vonis yang dijatuhkan Hakim Ketut Tirta itu lebih rendah dua kamar dari tuntutan Jaksa Penggugat Umum (JPU) Kejati Jatim Darmawati Lahang yaitu mulia tahun dan enam kamar penjara.

“Terdakwa Fadjar Setiawan dan terdakwa Hadi Suwanto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah. Karena tersebut, menghukum kepada masing-masing terdakwa dengan pidana penjara selama satu tahun dan enam bulan penjara. Menyatakan para-para terdakwa tetap ditahan, ” kata hakim Ketut Tirta saat membacakan amar putusannya di ruang sidang Kartika 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Mengikuti vonis tersebut, kedua terdakwa juga jaksa penuntut menyatakan pikir-pikir. Jaksa Penuntut Ijmal (JPU) Darmawati Lahang di dalam dakwaannya menjelaskan pada tahun 2017, Fadjar bersama Mujiono Moekmin Putra dari PT Antang Patahu Meaning (APM) datang ke rumah Purwanto, direktur PT Kapuas Jambrud Sejahtera (KJS) di Gayungsari.

Mereka mengiakan punya tambang batu tidak keruan di lahan PT Berkala International (BI) di Barito. Untuk menjalankan tambang itu, mereka berdua membutuhkan derma Rp 8 miliar. Mereka menawari PT KJS sebagai pendananya. Purwanto lantas mengirimkan tawaran itu ke Pemimpin Utomo, mantan Gubernur Jatim 1989-2008 sekaligus komisaris PT KJS.

Mujiono dan Fadjar lalu bertemu Imam Utomo untuk mengusulkan kerja sama itu. Bahkan, Fadjar meyakinkan telah menahan proyek dan tambang pada lahan tersebut dengan membuktikan bukti dua surat kesimpulan (SK) Bupati Barito Timur yang masing-masing tentang kelayakan lingkungan hidup kegiatan penambangan batu bara dan kerelaan usaha penambangan operasi penerapan.

Mendengar penjelasan tersebut Imam Utomo tergiring bekerjasama. Tetapi PT KJS tidak memiliki dana yang diminta terdakwa sebesar Rp 8, 8 miliar. Ketertarikan Imam Utomo pun bersambung dengan meminta bantuan simpanan kepada Soedono Margono, pejabat Kapal Api.

Soedono akhirnya bersedia mentraktir Rp 8 miliar melalui Franky Husein, direktur PT Kreasi Energi Alam (KEA). Mereka sepakat bahwa nantinya penjualan hasil tambang batu bara akan diprioritaskan ke PT KEA. Sedangkan PT KJS akan diberikan fee Rp 30. 000 per metrik ton (MT).

Pemimpin Utomo lalu minta taruhan kepada Fadjar Setiawan buat pencairan modal. Fadjar kemudian mengajak Hadi Suwanto jadi pihak penjamin. Hadi Suwanto menjaminkan dua unit vila di Rungkut. Namun, sertifikatnya masih di notaris sebab dalam proses balik nama dari pemilik lama ke Hadi Suwanto. Setelah itu, mereka membuat perjanjian kerjasama bisnis di hadapan notaris. Pihak pertama Mujiono sebagai pengelola tambang, Imam sebagi pemodal dan Hadi jadi penjamin.

Pemimpin Utomo sempat mengutus anak buahnya mengecek tambang ke lokasi. Setelah mendapatkan fakta tambang memang benar tersedia, Imam mentransfer Rp 8 miliar secara bertahap mematok lima kali ke rekening Fadjar Setiawan.

Terpisah, Robert Simangunsong, adjuster Imam Utomo ketika dikonfirmasi terkait perkara ini melegalkan kliennya tersebut mantan Gubernur Jatim. Awalnya, kliennya tersebut ingin membantu kedua tersangka untuk berkarya karena ada usaha.

“Kenalnya pertama dengan Mujiono. Saat ini sudah meninggal karena Covid. Lalu dikenalkan Hadi sebanding Fadjar. Dikatakan Fadjar bilang ada proyek tambang keras kepala bara. Bilang punya profesional. Dan bisa jual tekak bara, ” ucap Robert. [uci/suf]