Tumenggung Anas Bicara Soal Inovasi Pengerjaan Covid 19 di Depan Lemhanas

Banyuwangi (beritajatim. com) – Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI menyelenggarakan diskusi panel online tentang Sistem Manajemen Nasional. Kegiatan itu diikuti puluhan peserta yang terdiri berasaskan bupati/walikota, wakil bupati/ wakil walikota, serta ketua/wakil ketua DPRD.

Peserta tersebut tergabung di dalam Program Pemantapan Pimpinan Daerah (P3DA) Angkatan XI 2020 Lemhanas. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas hadir sebagai salah satu pembicara beserta kepala daerah lain yaitu Gubernur Ridwan Kamil.

Dalam kesempatan itu, Tenaga Profesional (Taprof) Bidang Sistem Menejemen Nasional Lemhanas Marsda TNI (Purn. ) Yoyok Yekti Setiyono mengatakan para peserta diharapkan bisa sharing terkait bervariasi prestasi yang berhasil diraih Banyuwangi. Menurut nya, Banyuwangi selalu menghadirkan beraneka macam inovasi di daerahnya.

“Dan inovasi yang dilakukan Banyuwangi tidak hanya dilakukan di tingkatan atas, namun Bupati Anas lulus menginternalisasi semangat inovasi di kalangan OPD, dan diikuti oleh stake holder dan warganya. Kami harap, dengan dihadirkannya Pak Bupati Azwar Anas di forum ini, para-para peserta bisa terinspirasi hal dengan sama, ” kata Marsda TNI (Purn. ) Yoyok.

Sementara itu, Tumenggung Abdullah Azwar Anas sharing bermacam-macam inovasi yang dilakukan Pemkab Banyuwangi. Mulai dari Smart Kampung, Kepala Pelayanan Publik, termasuk mengatasi kendala dalam melakukan eksekusi kebijakan dalam daerah.

“Sebenarnya dengan dialami semua kepala daerah pas, terkait keterbatasan anggaran, keterbatasan SDM, hingga keterbatasan waktu. Untuk itu, setiap pemimpin harus membuat pengutamaan program yang harus dilakukan terlebih dahulu, ” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat menjelma narasumber dalam diskusi panel online tentang Sistem Manajemen Nasional dengan digelar Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI.

Selain itu, berbagai hambatan harus segera dicarikan solusinya. Anas mencontohkan kendala georafis Banyuwangi yang menyebabkan jarak mengiringi desa ke pusat kota dengan memakan waktu. Hal ini diatasi dengan program Smart Kampung.

“Saat ini seluruh kampung sebanyak 189 desa di Banyuwangi telah dialiri fiber optik buat membuka akses ke dunia asing. Desa sudah diberi sejumlah kewenangan untuk melakukan pengurusan surat administrasi warga. Ini sangat memudahkan warga, sehingga smart kampung bukan cuma smart teknologinya, tapi juga smart terkait layanan-layanan lainnya, ” kata pendahuluan Anas.

Terkait kemiskinan, ada kurang strategi yang dikerjakan. Banyuwangi menyusun peta digital untuk memetakan program apa saja yang sudah diterima warga. Bahkan datanya sudah by name by addres. “Dari sini, program akan semakin tepat sasaran, dan kami bisa mengukur efektivitas program yang sudah dikerjakan, ” kata dia.

Keajegan Banyuwangi mengolah data digital ini sangat membantu daerah dalam proses penyaluran bantuan sosial di era pandemi covid 19 salah satunya. Lewat program Smart Kampung, pemkab bisa memetakan mana warga dengan berhak namun belum mendapat bansos.

“Berkat program itu, Kabupaten Banyuwangi meraih penghargaan Indonesia Smart Nation Award (ISNA) 2020, kategori Smart Society berupa inovasi penggunaan TIK dalam penanganan efek sosial covid 19. Inovasi itu adalah Cek Bantuan Sosial (Bansos) dalam Penanganan Covid 19, ” jelasnya. [rin/suf]